Minggu, 13 November 2022

Politikus NasDem Respons Omongan Fahri Hamzah soal 'Bandar': Tidak Benar!

Politikus NasDem Respons Omongan Fahri Hamzah soal 'Bandar': Tidak Benar! Bestari Barus membantah pernyataan Waketum Partai Gelora Fahri Hamzah terkait mundurnya jadwal deklarasi Capres-Cawapres pengusung Anies Baswedan. Politikus Partai Nasional Demokrat (NasDem) Bestari Barus membantah pernyataan Waketum Partai Gelora Fahri Hamzah terkait mundurnya jadwal deklarasi Capres-Cawapres pengusung Anies Baswedan yang sejatinya diusung poros koalisi Partai NasDem, Demokrat, dan PKS karena bandar belum bersepakat. Bestari mengatakan, pernyataan Fahri itu menunjukkan kualitas Fahri sebagai politikus kelas warung. "Tidak benar. Tidak ada soal bandar-bandar itu. Omongan Fahri itu menunjukkan kalau dia bukan politisi ulung. Dia hanya kelas politisi warung. Belum waktunya dia ngomong soal gagasan besar yang akan diusung koalisi perubahan ini," katanya kepada AKURAT.CO, Minggu (13/11/2022). Batal Deklarasi Koalisi 10 November, PKS: Bukan Berarti Tanda Keretakan! Dia lantas menjelaskan ihwal batalnya rencana deklarasi itu. Kata dia, pembatalan itu karena masih ada hal-hal pokok yang perlu didalami oleh masing-masing parpol yang akan mengusung Anies Baswedan. "Tidak jadi deklarasi itu karena masih ada hal-hal yang perlu didalami oleh NasDem bersama Demokrat dan PKS. Jadi tidak benar karena soal bandar," ungkap Tim Pemenangan Partai NasDem wilayah Jakarta-Banten itu. Selain itu, menurut dia, Fahri juga sedang berupaya menarik perhatian publik terhadap Partai Gelora. Untuk menjaga popularitas Partai Gelora itu, Fahri diyakini akan terus membuat pernyataan kontroversial. "Dia (Fahri) sedang berusaha supaya Partai Gelora itu mendapat perhatian dari masyarakat saja. Karena kan belum tentu juga lolos ke DPRD kabupaten dan provinsi. Kalau lolos ke Senayan ya masih jauh lah," ungkapnya. Dia meminta Fahri fokus mengurusi Partai Gelora agar bisa meloloskan calon-calon legislatif (Caleg) Partai Gelora minimal ke DPRD kabupaten dan kota di daerah-daerah di Indonesia. "Daripada dia ngurusi koalisi perubahan, mending dia urus Gelora biar caleg-calegnya menang. Enggak usah dulu mikirin DPR RI, kejauhan, masih lama bisa ke sana," katanya. Sebelumnya, dalam diskusi Total Politik, Fahri Hamzah mengatakan bahwa batalnya deklarasi Capres-cawapres Anies Baswedan oleh poros koalisi NasDem, Demokrat dan PKS karena bandar belum bersepakat. Pernyataan itu menimbulkan kontroversi karena Fahri dinilai menuding tanpa bukti.

Minggu, 06 November 2022

Terungkap ,Saling Sindir PBNU-PA 212 Soal Politik Identitas hingga Kader Korupsi

Saling Sindir PBNU-PA 212 Soal Politik Identitas hingga Kader Korupsi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 saling tuding soal kelompok yang memecah belah bangsa. Aksi saling tuding itu buntut dari rencana Aksi 212 pada 2 Desember mendatang. Wasekjen PBNU Rahmat Hidayat Pulungan mulanya mengkritik rencana aksi tersebut dengan menyinggung gerakan pemecah belah bangsa. Ia menyentil kelompok PA 212 memainkan isu politik identitas. "Untuk semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung, kita minta untuk menghentikan semua gerakan yang memecah belah kesatuan bangsa. Kedepankan politik gagasan, setop politik identitas," kata Rahmat dalam keterangan tertulis khusus merespons Aksi 212, Sabtu (5/11). Rahmat menilai politik identitas merupakan kejahatan politik yang akan menjadi kejahatan kemanusiaan. Dia mengatakan sebuah bangsa seharusnya mewarisi kebaikan pada generasi muda, bukan energi negatif seperti politik identitas. PA 212 Respons Kritik PBNU: Introspeksi Dong, Kalau Perlu Ngaca Powered by AdSparc "Dar'ul mafasid, muqoddamun ala jalbi al masalih, bahwa mencegah kerusakan lebih utama daripada mendatangkan kemaslahatan," ujarnya. Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif kemudian merespons dengan mempertanyakan alasan PBNU mengkritik rencana aksi reuni 212. Di sisi lain, Slamet menyarankan PBNU mengurus kadernya yang terlibat kasus korupsi. Slamet memang tak menyebut siapa kader PBNU yang tersangkut kasus korupsi. Namun demikian, belum lama ini, Bendahara Umum PBNU Mardani Maming jadi pesakitan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi. "Sudahlah, NU fokus urus kadernya yang terlibat korupsi, rampok uang rakyat ataupun yang terbaru pemalsuan uang baik yang di pusat maupun di daerah-daerah," kata Slamet. Slamet juga menuding balik PBNU dan mengatakan bahwa mereka adalah pihak yang selama ini justru memecah belah bangsa. Slamet mengungkit sejumlah pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang berasal dari NU. PBNU Kritik Keras Pernyataan Ade Armando Jelang Pilpres 2024 "Merekalah yang patut diduga menjadi otak pembubaran HTI dan FPI. Bahkan, sekarang sedang diincar yang berbau-bau Wahabi agak digilas juga. Introspeksi dong, kalau perlu ngaca," tuturnya. Slamet menegaskan Aksi 212 tetap akan digelar pada 2 Desember nanti. Reuni Aksi 212 nantinya tetap membawa tuntutan seperti Reuni Aksi 411 dengan mendesak Presiden Joko Widodo untuk mundur, karena dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahan. "Kata pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Kami tetap kafilah, biarkan mereka jadi apanya," pungkasnya.

PKS "Digoda" PKB, Nasdem Murka soal Isu 2 Menteri hingga Demokrat Sebut Hantu Demokrasi

PKS "Digoda" PKB, Nasdem Murka soal Isu 2 Menteri hingga Demokrat Sebut Hantu Demokrasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan menjadi sorotan dalam perpolitikan nasional menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Selain karena belum kunjung menyatakan berkoalisi dengan Nasdem dan Demokrat, partai pimpinan Ahmad Syaikhu ini juga sedang digoda tawaran masuk koalisi PKB-Gerindra. PKS juga sempat diisukan masuk kabinet Jokowi, padahal jelas-jelas ia merupakan partai di luar pemerintahan. Goyangan-goyangan itu ditengarai sebagai upaya untuk menjegal Anies Baswedan untuk maju kontestasi Pilpres 2024. Baca juga: PKS Disebut Lebih Untung jika Bergabung dengan Nasdem-Demokrat Catatan Kompas.com, rentetan dinamika dialami PKS sejak pertengahan Oktober, tepatnya setelah Anies resmi dideklarasikan oleh Nasdem sebagai calon presiden (capres). Tawaran PKB Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Ketua Umumnya Muhaimin Iskandar blak-blakan berharap PKS gabung koalisi PKB-Gerindra. Hal tersebut disampaikan Muhaimin ketika ditanya soal potensi bergabungnya partai politik lain di koalisi PKB-Gerindra. "Belum tahu, terus kita pendekatan. Saya berharap PKS bisa masuk," kata Muhaimin dalam keterangannya, Minggu (23/10/2022). Merespons hal itu, PKS menghormati tawaran PKB. Akan tetapi, PKS belum bisa memutuskan menerima tawaran tersebut. Baca juga: Soal PKS, Pengamat: Koalisi dengan Partai Manapun Tak Akan Menambah Suara Juru Bicara PKS Muhammad Kholid menyampaikan, partainya memilih untuk menuntaskan komunikasi intensif dengan Nasdem dan Demokrat. Kholid menyatakan, PKS bahkan sedang dalam proses ta'aruf dengan Nasdem dan Demokrat mencapai kesepakatan koalisi. "Kami mohon izin menuntaskan proses komunikasi politik dengan Nasdem dan Demokrat," kata Kholid. Diisukan dapat jatah menteri Tak berselang lama, PKS lagi-lagi diterpa rumor yang bertolak belakang dengan sikap partai koalisi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). PKS tiba-tiba dikabarkan mendapatkan jatah dua kursi menteri di kabinet Indonesia Maju. Rumor itu dengan tujuan agar Anies Baswedan tak bisa menjadi capres. Kholid menyatakan, tidak pernah ada tawaran seperti rumor yang berkembang di tengah masyarakat, apalagi dengan niatan agar PKS keluar dari koalisi pencapresan Anies. Baca juga: PKS Dinilai Lebih Baik Gabung ke Nasdem-Demokrat karena Faktor Anies Lihat Foto Anies Baswedan dan Wakil Ketua M "Enggak ada, saya itu sehari-hari nemenin Presiden PKS Ahmad Syaikhu, jadi selama ini ke kami tidak pernah ada tawaran apapun terkait dua menteri apalagi disebut tawaran dua menteri untuk menjegal anies. Aduh kacau balau," ujar Kholid saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (29/10/2022). Kholid melanjutkan, tawaran kursi menteri pernah didengarnya saat PKS dipimpin oleh Sohibul Iman. Kala itu era pemerintahan Jokowi periode pertama. Namun, PKS menolak dan ditegaskan melalui keputusan Majelis Dewan Syuro PKS. Keputusan itu menyatakan PKS harus berada di luar pemerintahan. Nasdem Murka Partai Nasdem, partai pengusung Anies capres itu bereaksi keras setelah mendengar laporan tentang isu tawaran 2 posisi menteri bagi PKS. Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya emosi saat ditanya mengenai isu PKS ditawari jatah dua menteri agar menarik dukungannya untuk mendukung Anies Baswedan maju sebagai capres. Willy curiga ada pihak yang mencoba menjegal Anies agar tidak maju ke Pilpres 2024. "Narasi-narasi ini mendegradasi, mendegradasi dua ranah. Teman-teman catat ini, mendegradasi PKS, mendegradasi kekuasaan hari ini. You can imagine, kalau narasi ini dikembangkan," ujar Willy di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (1/11/2022). Baca juga: Demokrat: Makin Banyak Hantu Ganggu Proses Koalisi dengan Nasdem-PKS, Kami Semakin Solid Willy menegaskan, PKS sejak awal sudah mendeklarasikan diri sebagai oposisi dari pemerintahan Presiden Jokowi. "Ibarat mau berbuka, ini sudah azan Ashar, sebentar lagi sudah azan Maghrib. Terus mereka ditawarin seperti itu? Dan mereka sudah statement, ini narasi yang benar-benar picik," tuturnya. Demokrat bilang "hantu" Di sisi lain, Partai Demokrat melalui Koordinator Juru Bicara Herzaky Mahendra Putra menyadari banyaknya upaya politik untuk menjegal terbentuknya koalisi Nasdem-Demokrat-PKS. Namun, hal itu dinilai memperkuat semangat ketiga partai politik (parpol) untuk bersatu. “Makin ke sini, makin banyak 'hantu' demokrasi bermunculan, mencoba mengganggu proses koalisi dengan bermacam cara, berupaya memecah belah,” ujar Herzaky kepada Kompas.com, Sabtu (5/11/2022). "Situasi ini malah membuat kami semakin solid dan merapatkan barisan,” ungkap dia. PKS: Kami Tak Mau Berandai-andai Tak menggubris upaya-upaya dari "hantu" politik itu, Herzaky memilih mengumbar kemesraan tiga parpol dalam membangun rencana koalisi. Dia mengeklaim, saat ini ketiga parpol telah mendekati proses akhir pembentukan koalisi. Dalam hal ini, semakin banyak kesepakatan yang tercapai untuk mewujudkan kerja sama Demokrat-PKS-Nasdem. “(Progres) bisa 90 persen, bisa lebih. Semakin banyak kesepahaman yang telah dicapai,” sebut dia. Tak berefek ke suara PKS Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah, PKS tidak memiliki perhitungan untung rugi dalam menentukan mitra koalisi. "Karena pemilih PKS stagnan dan terbatas, ia koalisi dengan siapapun tidak akan menambah suara," kata Dedi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (6/11/2022). Berkaca hal tersebut, Dedi menilai PKS condong mempertimbangkan koalisi karena melihat figur yang bakal diusung menjadi capres dan cawapres. "Kondisi ini memungkinkan PKS bergabung ke Gerindra karena faktor Prabowo, atau ke Anies dengan Nasdem dan lainnya," ujar Dedi. Baca juga: Diteriaki Presiden Saat Kunjungi Relawan di Medan, Anies: Pegang Itu Sebagai Tujuan Bersama Dedi kemudian menyoroti komunikasi intens yang dijalin PKS dengan Nasdem dan Demokrat. Begitu juga, intensitas komunikasi PKS yang lebih condong ke Anies Baswedan ketimbang Prabowo. Menurutnya, sudah ada komunikasi dengan Anies, tapi belum pernah PKS bertemu dengan Prabowo. Seperti diketahui, memang Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Ahmad Heryawan atau Aher bertemu dengan Anies. Aher memang diusulkan PKS untuk mendampingi Anies sebagai cawapres. "Dari intensitas komunikasi, memang terlihat PKS lebih condong mendukung Anies," kata Dedi. Anies Baswedan: Jangan Mau Dibentrok-bentrok Lebih lanjut, Dedi berpandangan bahwa tidak ada perbedaan mencolok antara Prabowo dan Anies untuk didukung PKS. Perbedaan hanya ada pada koalisi Nasdem yang tidak ada afiliasi pemilih sama atau setara dengan PKS, yakni kelompok dominan Islam. "Sementara ke PKB, meskipun sama-sama afiliasi Islam, tapi ada nuansa kader di bawah bisa saja menolak PKS," ujarnya. Enggan andai-andai... PKS kembali menyatakan diri tak mau berspekulasi dalam langkah politik ke depan soal koalisi. Utamanya, jika ada pandangan bahwa PKS bakal meninggalkan Nasdem dan Demokrat apabila kepentingannya tak diakomodasi. Kholid mengaku, saat ini proses penjajakan dengan Nasdem-Demokrat berlangsung lancar dan dilandasi semangat kebersamaan yang tinggi. "Kami tidak mau berandai-andai, kita lalui saja prosesnya dengan rasional dan objektif sesuai dengan kesepakatan,” ujar Kholid pada Kompas.com, Sabtu (5/11/2022). Upaya pembentukan koalisi terus diperjuangkan untuk mencari kesepakatan bersama. Ia mengatakan, PKS, Nasdem, dan Demokrat sama-sama berjuang mencari titik temu, bukan titik tolak.

Rabu, 02 November 2022

Heboh Menangis di Persidangan, Ibu Brigadir J Tanya Kuat Maruf Ada Apa Kamu Sama Putri?

Menangis di Persidangan, Ibu Brigadir J Tanya Kuat Maruf: Ada Apa Kamu Sama Putri? Rosti Simanjuntak, ibu dari Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat menyebut terdakwa Kuat Maruf merupakan orang yang hebat seperti Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Apa yang dimaksudkannya itu yakni terkait dengan skenario terkait pembunuhan rencana terhadap anaknya. Hal ini disampaikan Rosti dalam sidang lanjutan perkara kematian Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (2/11). "Di dalam kasus ini, Kuat Maruf skenario yang sangat hebat, sangat luar biasa saya lihat di dalam kasus ini kalian mengetahui semua. Bahkan, menginginkan daripada kematian anakku. Jadi, kamu dan atasan kamu Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi sangat-sangat luar biasa skenariomu, kebohongan-kebohongan," kata Rosti. Ia pun mempertanyakan permintaan maaf Kuat Maruf dalam persidangan tersebut. Karena, baru kali ini terdakwa meminta maaf kepada ibu korban. "Di sini, dia minta maaf sesudah anakku hampir 5 bulan tewas di tangan kalian semua. Sungguh luar biasa kalian sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Kita sama-sama ciptaan Tuhan kok, baru sekarang ada kesadaran kamu minta maaf kepada ibu, ibunda daripada Yosua yang saat kau bunuh dengan sangat sadisnya," ujarnya. "Sangat kejinya perbuatan kalian, segerombolan kalian di rumah bapak itu, menghabisi nyawa anakku dengan sadis tanpa memberikan satu pertolongan buat anakku," tambahnya. Pertanyakan Kejahatan Sambil menangis, Rosti juga mempertanyakan kepada Kuat Maruf soal kejahatan apa yang mereka tutupi bersama dengan Putri Candrawathi tersebut. "Kalian yang tahu gimana ini semua, kejahatan apa yang "kalian tutupin, kejahatan apa yang kalian tutupi di sini bersama atasanmu itu? Sama si PC itu? Jadi tolong jujur!," ucapnya. Selain itu, terkait dengan permintaan maaf Kuat kepadanya itu bukan hanya sekedar disampaikan melalui mulut saja akan tetapi juga kepada Tuhan. Karena, terdakwa dianggapnya sudah menghancurkan kebanggaan anaknya yang kerap diminta untuk berbuat baik dimanapun berada. "Terlebih kamu satu rumah dan satu atasan, saya sangat heran dalam peran ini. Kalau aku lihat di berita, bukan aku sok tahu, ini sangat berat, saya tidak ikuti kasus ini, baru ini ku diberi kekuatan pada Tuhan untuk ikuti kasus anakku ini," ujar Rosti sambil menangis. "Ada apa di dalam ini semua? tolong ya. Minta tolong karena kalian punya ibu juga, punya keluarga dan keturunan, agar jangan sia-sia dan mata kalian yang sudah dikasih Tuhan yang tidak berguna dengan kematian anakku," sambungnya. Rosti menegaskan, agar permintaan maaf keduanya itu dilakukan bukan hanya di mulut saja yang dianggap seperti Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Menangis di Persidangan, Ibu Brigadir J Tanya Kuat Maruf: Ada Apa Kamu Sama Putri? "Jadi permintaan maaf itu jangan hanya di bibir seperti FS dan Putri. berikan itu dari hati nurani yang sangat dalam. Diberikan itu di depan Tuhan. Cuma Tuhan yang maha mengetahui, melihat, dan yang memahami jeritan tangis anakku, anakku satu-satunya luar biasa. Di mana hati kalian," katanya. "Hewan saja mati pasti mendapatkan pertolongan, ini kalian manusia diciptakan Tuhan, punya mata, punya hati. Tapi itupun kalian mengikuti skenario atasanmu dan putrimu yang kau banggakan itu," tambahnya. Pertanyakan Hubungan dengan Putri Candrawathi Oleh karena itu, Rosti pun juga mempertanyakan hubungan antara Kuat Maruf dan Putri Candrawathi. "Ada apa kamu sama si Putri itu Kuat Maruf? Siapanya si Putri kamu? Sampai kamu mendesak mengatur si Putri. Saya orang kecil saja tidak boleh di rumah mengatur. Apalagi kepada istri yang bukan istri kita," ujar Rosti. "Ini ingat ya! Camkan dalam-dalam, bagaimana atasanmu membuat skenario, Tuhan akan melihat. Kami di sini, memang kami orang lemah. Tapi kami yakin, di hadapan Tuhan kami akan diperhitungkan," tambahnya. Ia pun meminta kepada kuasa hukum Kuat Maruf untuk dapat menyelidiki kliennya tersebut. "Ferdy sambo tidak memiliki hati nurani. Tidak satupun di antara mereka, mereka berskenario kebohongan demi kebohongan, kepada pengacara Kuat Maruf tolong diselidiki Kuat Maruf sebenarnya, jangan hanya berkata maaf. Kalau maaf di bibir gampang, 1.000 kali bisa disebutkan dalam setiap menit. Tapi buktikan kata maafmu itu, terlebih di hadapan Tuhan. Kalau anakku yang kalian inginkan kematiannya sudah berakhir," ungkapnya. "Begitu juga Ricky, bagaimana sikapmu sebagai patriot, sumpah yang kau lakukan di depan hakim dan Tuhan. Jadi sebagai kamu punya ibu, anak, keturunan. Apa yang kita tabur, tanam, suatu saat akan kita tuai. Jadi, kalau kamu minta maf di sini mohon berkata jujur, jangan ikuti skenario-skenario kebohongan. Saya minta jangan hanya di mulut, mulut itu gampang ini adalah harimaumu yang menerkam dirimu sendiri. Jadi berkata jujur," tutupnya.

Selasa, 01 November 2022

Akhirnya Terungkap !!! 5 Kebohongan Susi, ART Ferdy Sambo Menurut Bharada Eliezer di Persidangan.

5 Kebohongan Susi, ART Ferdy Sambo Menurut Bharada Eliezer di Persidangan Setidaknya ada lima kebohongan Susi, ART Ferdy Sambo menurut Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau dikenal Bharada E yang dibeberkan di persidangan. Diketahui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali melanjutkan persidangan kasus Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Senin (31/10/2022) Sidang ini merupakan pemeriksaan saksi, salah satunya yakni Susi, ART Ferdy Sambo. Usai Susi memberikan keterangan di hadapan hakim, Bharada E yang berada di ruang persidangan membeberkan ada sejumlah kebohongan. "Mohon izin yang mulia, untuk keterangan dari saudara saksi, banyak yang bohongnya," kata Bharada Eliezer di persidangan dilihat Serambinews.com dari Kompas TV, Ia merincikan, pertama saat kejadian di rumah Magelang pada 4 Juli 2022. Eliezer mengakui melihat Yosua ingin mengangkat Putri saat di sofa karena sakit, namun ia membantah pernyataan Susi tentang dirinya. "Saudara saksi menjelaskan saya mengatakan 'jangan gitulah bang', padahal itu tidak benar yang mulia," ucap Eliezer. Kedua, pernyataan Susi soal Ferdy Sambo lebih sering di rumah Saguling, Duren Tiga. Hal itu juga dibantah oleh Eliezer karena menurutnya Ferdy Sambo lebih sering di kediaman yang di Jalan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. "Sabtu-Minggu saja baru balik ke Saguling," kata Eliezer. Ketiga, ia juga membantah terkait adanya isolasi Covid-19 Ferdy Sambo di rumah Saguling, Duren Tiga. Menurut Eliezer, beberapa bulan lalu Sambo terpapar Covid-19 setelah dirinya dan beberapa ajudan lain mengalami hal yang sama. "Dan untuk isolasinya dilaksanakan di kediaman Bangka. Setelah saudara FS kena Covid, setelah itu anaknya yang perempuan kena Covid juga," ungkap Eliezer. "Dan isolasinya juga di jalan Bangka, jadi tidak pernah ada isolasi di TKP Duren Tiga," tambahnya. Keempat, bantahan lainnya soal pernyataan Susi yang menyebutkan Yosua tidak memiliki kamar di rumah jalan Saguling. "Saya ingin membantah yang mulia karena saudara almarhum memang memiliki kamar di jalan Saguling," ucap Eliezer. "Kamar ajudan itu memang di situ barang-barangnya almarhum semua," tambahnya. Kelima, Bharada Eliezar membantah bahwa Susi tak melihat senjata api (Senpi) laras panjang yang dibawa dari Magelang ke Jakarta. "Menurut saya saudara saksi melihat karena untuk Senpi laras panjang cukup besar yang mulia," ucap Eliezer. "Dan di mobil kita cuma berempat dari Jakarta ke Magelang, pasti kelihatan," tambahnya. Sambil Bergetar, Bharada E Mohon Maaf Tak Mampu Tolak Perintah Jenderal Sambil bergetar, Bharada E atau Richard Eliezer Pudihang Lumiu menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Yosua (Brigadir J). Bharada E mengakui dirinya hanyalah seorang anggota yang tak punya kemampuan menolak perintah seorang jenderal. Hal itu disampaikan Bharada E jelang istirahat dalam sidang kasus Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (18/10/2022). Usai menjalani sidang pertama sejak pagi, kuasa hukum membawa Bharada E ke hadapan para awak media jelang istirahat siang. Kuasa hukumnya menyampaikan terdakwa kasus Brigadir J itu ingin menyampaikan sesuatu. Didampingi kuasa hukumnya, Bharada E menyampaikan turut belasungkawa atas kematian Yosua dan mendoakan almarhum mendapat tempat di sisi Tuhan. "Mohon izin, sekali lagi saya menyampaikan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk kejadian yang telah menimpa almarhum bang Yos," ucap Bharada E. "Saya berdoa semoga almarhum bang Yos diterima di sisi Tuhan Yesus Kristus," tambahnya. Bharada E juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga Yosua atas kejadian tersebut. "Dan untuk keluarga almarhum bang Yos, bapak ibu, Reza serta seluruh keluarga besar bang Yos, saya memohon maaf," ucap Bharada E. "Semoga permohonan maaf saya ini dapat diterima oleh pihak keluarga," tambahnya. Ia juga mendoakan agar Tuhan memberikan kekuatan serta penghiburan buat keluarga almarhum kepada almarhum Yosua. "Saya sangat menyesali perbuatan saya," ucap Bharada E. "Namun saya hanya ingin menyatakan bahwa saya hanyalah seorang anggota yang tidak memiliki kemampuan untuk menolak perintah dari seorang jenderal. Terima kasih, Minggu 16 Oktober 2022. Rutan Bareskrim," tutupnya membacakan secarik kertas yang dioret-oretnya sejak dua hari lalu. Dalam bacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) saat sidang pertama Ferdy Sambo pada Senin kemarin, secara detail diuraikan bagaimana detik-detik Brigadir J. Termasuk dalam hal ini perintah Ferdy Sambo kepada Bharada E yang memaksa agar sang ajudan menembak lebih dahulu ke arah tubuh Yosua. JPU dalam bacaan dakwaan menceritakan, kejadian dimulai sekitar pukul 17.12 WIB. Saat itu, Kuat Maruf yang mengetahui kehendak jahat Ferdy Sambo dengan sigap dan tanggap keluar melalui pintu dapur menuju garasi. Kuat menghampiri saksi Ricky Rizal Wibowo yang berdiri dekat garasi di dekat bak sampah. "Om, dipanggil bapak sama Yosua," ucap JPU menirukan Kuat. Mendengar perkataan tersebut, Ricky menghampiri Yosua yang sedang berada di halaman samping rumah dan memberitahu dirinya dipanggil Ferdy Sambo. Kemudian Yosua tanpa sedikit pun curiga berjalan masuk ke rumah melewati garasi dan pintu dapur menuju ruang tengah dekat meja makan. Yosua diikuti terus oleh Ricky dan Kuat sampai ke hadapan Ferdy Sambo. Saat itu Kuat masih membawa pisau dalam tas selempangnya untuk berjaga-jaga apabila terjadi perlawanan. Sampai di ruang tengah dekat meja makan, terdakwa Ferdy Sambo bertemu dan berhadapan dengan Yosua. Sambo langsung memegang leher bagian belakang korban lalu mendorongnya ke depan sehingga tepat berada di depan tangga. Terdakwa Ferdy Sambo saat itu tepat berada di depan Yosua, sementara Richard berada di sebelah kanan dan Kuat di belakang Ferdy Sambo. Kemudian Ricky berada di belakang Richard dalam posisi bersiaga melakukan pengamanan bila Yosua sewaktu-waktu melakukan perlawanan. Sementara Putri Candrawathi berada dalam kamar utama dengan jarak kurang lebih tiga meter dari posisi Yosua berdiri. "Jongkok kamu," kata JPU menirukan Ferdy Sambo. "Ada apa ini?" tanya Yosua sambil mengangkat kedua tangannya menghadap ke depan sejajar dengan dada. Yosua sempat mundur sedikit sebagai pertanda menyerahkan diri. Ferdy Sambo berteriak dengan suara keras kepada Richard sambil memberikan perintah . Dalam bacaan dakwaan, JPU menyampaikan sebagai seorang perwira tinggi Polri berpangkat Irjen yang sudah lama berkecimpung dalam dunia hukum, sepatutnya bertanya dan memberikan kesempatan kepada Yosua untuk menjelaskan kejadian sebagaimana yang diceritakan Putri tentang pelecehan yang di Magelang. "Bukannya malah membuat terdakwa Ferdy Sambo semudah itu menjadi marah dan emosi hingga merampas nyawa korban Yosua," ucap JPU dalam sidang tersebut. Kembali ke kronologi, setelah mendengar teriakan perintah Sambo, Richard sesuai dengan rencana jahat yang telah disusun sebelumnya langsung mengarahkan pistol Glock-17 ke tubuh Yosua. Richard sebanyak tiga atau empat kali ke tubuh Yosua hingga korban terkapar mengeluarkan banyak darah. Kemudian terdakwa Ferdy Sambo menghampiri Yosua yang tergeletak di dekat tangga depan kamar mandi dalam keadaan tertelungkup dan masih bergerak-gerak kesakitan. Lalu untuk memastikan benar-benar tidak bernyawa lagi, Ferdy Sambo menghabisi langsung nyawa Yosua. Ferdy Sambo yang sudah memakai sarung tangan hitam, memegang senjata api dan menembak satu kali mengenai tepat kepala bagian belakang sisi kiri Yosua hingga meninggal dunia. Untuk menghilangkan jejak, Sambo menembak ke arah dinding di atas tangga beberapa kali, lalu berbalik menghampiri Yosua. Sambo menempelkan senjata api HS milik korban ke tangan kiri Yosua dan menembakkan menggunakan tangan kiri Yosua ke arah tembok di atas TV. "Dengan tujuan seolah-olah telah terjadi antara Richard dengan Yosua," ucap JPU. "Korban meninggal dunia sekira pukul 17.16 WIB," tambahnya.

Heboh Tatapan Tajam Putri Candrawathi ke Ayah Brigadir J, Ibu Yosua Menangis Berurai Air Mata

Heboh Tatapan Tajam Putri Candrawathi ke Ayah Brigadir J, Ibu Yosua Menangis Berurai Air Mata Terdakwa kasus pembunuhan berencana Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi bertemu dengan keluaga Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Selasa (1/11/2022). Sedikitnya, 12 anggota keluarga Brigadir J dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dengan terdakwa Sambo dan Putri. Dua di antaranya ialah orangtua Yosua, Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjuntak. Ini merupakan momen pertama Sambo dan Putri berhadapan langsung dengan Samuel dan Rosti setelah penembakan Yosua. Baca juga: Ekspresi Ferdy Sambo Saat Ibu dan Ayah Brigadir J Masuk ke Ruang Sidang Di ruang sidang, Samuel duduk bersebelahan dengan Rosti di kursi saksi di hadapan majelis hakim. Keduanya kompak mengenakan atasan berwarna putih dan bawahan hitam. Sementara, Sambo dan Putri duduk bersama tim kuasa hukumnya di sisi samping. Mereka memakai baju serba hitam. Samuel menjadi orang pertama yang memberikan keterangan. Ayah Yosua itu menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilemparkan jaksa penuntut umum (JPU). Salah satu yang disampaikan Samuel ialah soal ketika dirinya dan keluarga mendapat kabar kematian Yosua. Samuel juga menceritakan soal narasi tembak menembak antara Yosua dan Richard Eliezer atau Bharada E yang ternyata merupakan rekayasa Sambo semata. "Secara tiba-tiba almarhum masuk ke dalam kamar Ibu Putri dan berbuat tidak senonoh. Jadi Ibu Putri menjerit, akhirnya almarhum keluar dari dalam kamar dalam keadaan panik. Begitu di depan pintu kamar Ibu Putri, datang dari lantai atas Bharada E menanyakan kepada almarhum, 'ada apa, Bang?', tapi almarhum tidak menjawab Langsung mengambil senjata dari pinggang langsung menembaki Bharada E," kata Samuel. "Terjadilah tembak-menembak itu makanya almarhum meninggal dunia. Itulah pesan yang disampaikan kepada kami, kata Pak Leonardo (Kombes Leonardo Simatupang, eks Pemeriksa Utama Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri) pada saat itu," tuturnya. Baca juga: Sebelum Sidang, Putri Cium Tangan Sambo, Dibalas Peluk dan Kecup Kening Saat Samuel menyampaikan kesaksiannya, dari sisi samping terlihat Putri melempar tatapan tajam. Istri Ferdy Sambo itu beberapa kali tampak mencatat dan sesekali berbisik dengan pengacara yang duduk di sampingnya, Sarmauli Simangunsong. Tak berapa lama, Rosti Simanjuntak yang duduk di samping Samuel, tampak menangis. Ibunda Yosua itu tersedu-sedu dan berulang kali menyeka air matanya menggunakan tisu ketika mendengar kesaksian suaminya. Sebagaimana diketahui, kasus kematian Brigadir Yosua kini telah sampai di tahap peradilan di meja hijau. Dalam kasus ini, lima orang dijerat pasal pembunuhan berencana terhadap Yosua. Mereka yakni mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Ferdy Sambo; istri Sambo, Putri Candrawathi; ajudan Sambo, Richard Eliezer atau Bharada E dan Ricky Rizal atau Bripka RR; dan ART Sambo, Kuat Ma'ruf. Berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umum, pembunuhan itu dilatarbelakangi oleh pernyataan Putri yang mengaku telah dilecehkan oleh Yosua di rumah Sambo di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (7/7/2022). Pengakuan yang belum diketahui kebenarannya itu lantas membuat Sambo marah hingga menyusun strategi untuk membunuh Yosua. Disebutkan bahwa mulanya, Sambo menyuruh Ricky Rizal atau Bripka RR menembak Yosua. Namun, Ricky menolak sehingga Sambo beralih memerintahkan Richard Eliezer atau Bharada E. Ayah Brigadir J: Jika Tuhan Sudah Bekerja, Tak Ada yang Bisa Halangi, Apa Pun Pangkatnya! Brigadir Yosua dieksekusi dengan cara ditembak 2-3 kali oleh Bharada E di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022). Setelahnya, Sambo menembak kepala belakang Yosua hingga korban tewas. Mantan jenderal bintang dua Polri itu lantas menembakkan pistol milik Yosua ke dinding-dinding untuk menciptakan narasi tembak menembak antara Brigadir J dan Bharada E yang berujung pada tewasnya Yosua. Atas perbuatan tersebut, para terdakwa didakwa melanggar Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP.

Heboh, Ibu Yosua Menangis di Persidangan. Nyawa Anakku Dirampas Ferdy Sambo !

Heboh, Ibu Yosua Menangis di Persidangan. Nyawa Anakku Dirampas Ferdy Sa... ferdy sambo,sidang ferdy sambo,art ferdy sambo,sidang sambo,susi art ferdy sambo,susi art sambo ubah keterangan dalam persidangan,ferdy sambo tersangka,sambo,pengakuan susi art sambo,sidang susi art sambo,sidang saksi untuk sambo,ajudan ferdy sambo,pemeriksaan saksi ferdy sambo,asisten rumah tangga ferdy sambo,anak ferdy sambo,anak bungsu ferdy sambo,keluarga brigadir j bertemu ferdy sambo di sidang,sidang ferdy sambo sidang saksi putri candrawathi