Bacot Doang yang Gede, Baru Disenggol Dikit oleh TNI, Nyali Effendi Simbolon Langsung Ciut
Dari dulu kita sudah diingatkan untuk selalu menjaga perilaku, sikap dan perkataan.
Kenapa? Karena kalau tidak hati-hati bertindak atau bicara, siap-siap saja blunder.
Bukankah ada peribahasa yang berbunyi, "mulutmu harimaumu". Atau segala perkataan yang terlanjur kita ucapkan apabila tidak dipikirkan terlebih dahulu akan dapat merugikan diri sendiri.
Sudah banyak kok contoh orang yang ngomong sembarangan berakhir di kuburan. Seperti yang terjadi di Kabupeten Kepahiang, Provinsi Bengkulu pada Mei 2022 lalu. Ada remaja yang hidupnya berakhir tragis pasca ditusuk oleh temannya sendiri pakai pisau tajam. Penyebabnya pun sepele karena pelaku tersinggung dengan perkataan korban.
Begitupun yang viral pada 2016/2017 silam yakni kasus Ahok. Ia sebenarnya dapat menang dengan mudah di Pilgub DKI 2017. Karena kepuasan masyarakat terhadap hasil kinerjanya cukup tinggi. Serta lawannya Anies tidak punya prestasi apa-apa selain dari dipecat dari Mendikbud.
Tapi hasilnya, Anies yang menang.
Kenapa bisa begitu? Karena Ahok menyinggung surat Al-Maidah dalam pidatonya.
Memang ia tidak sama sekali berniat menghina agama Islam. Tapi berniat atau tidak, tidak penting bagi lawan politik. Asalkan perkataannya itu bisa digoreng, ya mereka manfaatkan sebaik mungkin.
Termasuk yang terbaru Effendi Simbolon. Ia belakangan ini viral di Medsos lantaran menghina institusi TNI. Effendi seperti tanpa bersalah mengatakan angkatan bersenjata yang terdiri dari 3 matra; darat, laut dan udara itu seperti grombolan.
Tidak pelak, omongannya itu pun langsung menyinggung perasaan prajurit TNI di seluruh Indonesia.
Hingga KASAD Jenderal Dudung pun memperingatkan Effendi untuk kalau tidak mengerti persoalan jangan sok tahu.
"Maka jangan sok tahulah. Yang nggak ngerti apa-apa seakan-akan paling bener sendiri, paling mulia sendiri," ujar mantan Pangdam Jaya dan Pangkostrad tersebut.
Dudung pun menjelaskan hubungannya dengan Panglima TNI tetap baik-baik saja. Kalau pun ada sedikit perbedaan itu hal yang biasa.
Terakhir, jenderal yang dibenci FPI itu memperingatkan Effendi agar tidak asal bicara.
"Kalau tidak tahu, tidak paham tentang fakta dan bukti sebenarnya, jangan asal bicara," ujarnya dengan nada tegas.
Tidak menunggu waktu lama, tidak hanya Dudung seorang yang angkat bicara. Tapi prajurit TNI lainnya juga pengen rasanya menggeprek mantan Cagub Sumut gagal itu.
Seperti yang terlihat pada pernyataan Kopda Arif berikut ini,
"Hei, kau Effendi Simbolon, anggota dewan Komisi I DPR RI. Saya, kopral. Saya tidak terima TNI dibilang seperti gerombolan. Saya minta kau segera minta maaf secara terbuka kepada TNI," ujar tentara tersebut dengan nada beringas.
Kopda Arif pun mengancam kalau Effendi tidak segara minta maaf secara terbuka ke publik maka ia akan mencarinya sampai ke ujung dunia.
Kalau sudah mau mencari orang seperti itu, biasanya nantang duel. Atau dengan kata lain anggota TNI tersebut nantang Effendi Simbolon untuk berkelahi.
Kalau di Madura dikenal dengan istilah carok yakni perkelahian satu lawan satu menggunakan celurit dalam rangka mempertahankan harga diri atau kehormatan.
Tapi sepertinya kita gak bakal melihat atau menyaksikan. .Effendi Simbolon carok melawan Kopda Arif tersebut.
Kenapa demikian? Pasalnya Effendi sudah ciut duluan. Atau dengan kata lain ia sudah kalah sebelum berperang.
Mantan Ketua Lemkari itu buru-buru minta maaf supaya tidak sampai 'digeprek' oleh tentara.


0 komentar:
Posting Komentar