Senin, 19 September 2022

Gawat PDIP Mulai Panas Dengan Demokrat dan PKS, Pemilu Bakal Makin Panas ?




Pertarungan di pilpres sudah hampir dipastikan akan sangat sengit dan mungkin brutal. Saya bisa merasakan ini.

SBY turun gunung, langsung naik tagar yang sifatnya memuji SBY habis-habisan seolah dia mau lagi mencalonkan diri sebagai cawapres, hehehe.

AHY dan SBY bikin pidato murahan yang tendensius kalau tidak mau disebut provokatif. Katanya ada isu pemilu 2024 akan tidak jujur dan adil, ada isu capres dan cawapres hanya dua pasang saja, ada isu Demokrat akan dijegal agar tidak bisa mengusung capres atau cawapres. Jurus play victim berisi kemunafikan.

PDIP pasti memasang alarm tinggi mengingat mereka sudah paham bagaimana pola manuver politik SBY di masa lalu.

Bukan cuma itu saja PDIP saat ini sedang adu debat dengan PKS. PKS juga dirumorkan akan berkoalisi dengan Demokrat agar Anies bisa menjadi capres.

PDIP dan PKS juga tak pernah cocok, bagai air dan minyak, bagai Tom dan Jerry.

Sebelumnya PDIP mencibir PKS yang belakangan keras menolak kenaikan harga BBM. Sekjen PDIP Hasto mempertanyakan apa prestasi PKS puluhan tahun dipimpin Depok.

Saya bantu jawab, walkotnya berprestasi menciptakan lagu. Ini spektakuler.

"Sekarang tampilkan saja kepala daerah mana dari PKS yang berprestasi? Di Kota Depok puluhan tahun dipimpin PKS tetapi bagaimana prestasinya? Itu baru memimpin kota, belum memimpin Indonesia yang begitu kompleks," kata Hasto.

Dia bahkan mengungkit peran PKS yang saat berada dalam koalisi pemerintahan SBY justru mendukung penyerahan Blok Cepu ke Exxon Mobil. "Apa yang dilakukan PKS secara tidak langsung memperlemah Palestina. Karena penguatan AS berarti memperlemah Palestina," kata Hasto.

PKS pun gerah dan balas balik dengan memamerkan Kota Depok selama dipimpin PKS berhasil menurunkan tingkat kemiskinan menjadi 1,58 persen hingga tahun 2021. Dia juga menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Depok juga mencapai peringkat tertinggi ketiga di Jawa Barat.

Lalu PKS menyinggung soal Solo. "Kota Solo lama di bawah kepemimpinan PDIP. Dari Pak Jokowi hingga sekarang putranya Gibran. Bagaimana prestasi pengentasan kemiskinannya?" kata Jubir PKS, Muhammad Kholid.

Hasto lalu balas menyindir bahwa menurut penelitian para ahli, yang meningkat di Depok justru intoleransi.

Bahkan Gibran pun ikut merespon dan mempersilakan untuk mengecek langsung di kotanya.

"Cek data BPS. Silakan teman-teman media cek kondisi lapangan seperti apa," kata Gibran.

Ini adalah gambaran kecil atau teaser trailer mengenai apa yang akan terjadi pada pemilu maupun pilpres 2024. Pilpres masih 1,5 tahun lagi, tapi auranya sudah sedemikian panas. Sudah ada saling sindir dan adu mulut.

PDIP pasti akan berseberangan dengan PKS dan Demokrat. Demokrat sudah hampir dipastikan akan bergabung dengan PKS.

SBY dengan jurus lama play victim dan melempar isu panas serta PKS yang akan menggunakan jurus agama dan surga. Ini kombinasi yang cukup berbahaya. Kedua partai ini bisa saja dijungkalkan jika Nasdem tidak memberi panggung buat mereka. Kalau saja Nasdem tidak pernah berkomunikasi dengan mereka, tentu mereka tidak akan sesombong ini. Kepala mereka tidak akan sebesar sekarang.

Sekarang mereka memanfaatkan momentum untuk memperkeruh situasi. Melempar isu ada penjegalan dan penghadangan terhadap Anies atau AHY. Kita harapkan semoga saja itu terjadi. Sungguh menyenangkan melihat mereka terpana dengan wajah syok dan tidak bisa menerima kenyataan.

Buzzer-buzzer sebelah sudah mulai bermain di Twitter. Puji-pujian dengan data serta grafik semu berseliweran di mana-mana demi mengangkat nama anak emas yang sebetulnya bukan emas.

Ibarat saya awalnya berpenghasilan Rp 5 juta lalu naik jadi Rp 10 juta, lalu saya banggakan ke seluruh Indonesia. Padahal ada fakta lainnya yang tak diberitahu, yaitu di negara lain, penghasilan rata-rata naik jadi Rp 15 juta. Sama saja konyol, naiknya tetap yang paling rendah. Itulah analogi pertumbuhan ekonomi yang diagung-agungkan di era pemerintahan sebelumnya.

Mereka akan mati-matian mengandalkan ini demi menang pilpres. Apalagi kalau ada PKS, akan ada ugal-ugalan politik. Apalagi SBY turun gunung. Ini bukan tanda bagus. Ini alarm peringatan.


0 komentar:

Posting Komentar