Setiap channel youtube yang ingin mengambil artikel ini untuk dinarasikan, harap meminta ijin lewat email redaksi@seword.com dan membayar fee yang sesuai.
Sebut Jokowi Tinggal Gunting Pita karena Peran Masa Lalu SBY, Apakah AHY sedang Mengigau?
Pangeran Cikeas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tampaknya sedang mengigau trus lamgsung pidato ketika dia menyindir pemerintahan Jokowi yang disebutnya hanya seperti gunting pita.
Ketua Umum Partai Demokrat itu dengan sembrono berani menilai bahwa pemerintahan Presiden Jokowi banyak mendapat limpahan proyek setengah jadi dari masa kepemerintahan Pepo Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Banyak yang tinggal dan sudah 70 persen bahkan tinggal 90 persen, tinggal gunting pita. Setahun gunting pita kira-kira masuk akal tidak?," kata AHY dengan penuh gaya di hadapan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Demokrat di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Kamis (15/9).
Seolah belum cukup, AHY lantas menambahkan lagi:
"Ya kita tidak perlu juga diapresiasi. Tapi jangan mengatakan, 'Ini kehebatan kita (kepemimpinan Jokowi)', satu tahun gunting pita. Itu namanya claiming sesuatu yang .. ya kadang-kadang saya speechless juga mengatakannya tapi kenapa sih kita tidak kemudian mengatakan terima kasih telah diletakkan landasan telah dibangun 70 persen, 80 persen sehingga kami tinggal 10 persen tinggal gunting pita, terima kasih Demokrat, terima kasih SBY, begitu."
Akhirnya, masih dalam pidato yang sama AHY tampak membanggakan Pepo SBY dengan berkata:
"Intinya apa? Rakyat merindukan siapa? SBY dan kepemimpinan dari partai?"
Harap jangan tertawa mendengar (membaca) petikan pidato AHY tadi, meski tampaknya kita kudu mengakui juga kalau si pembuat teks (materi) pidatonya cukup bagus. Dia tampaknya cukup paham soal "kehebatan" SBY, sehingga bisa mewariskan proyek begitu banyak, sehingga Jokowi tinggal melakukan polesan akhir alias finishing yang disebut gunting pita tadi.
Hanya, AHY mungkin lupa fakta bahwa dirinya mungkin sedang berhalusinasi, atau mungkin dia hanya menggunakan data milik internal partainya yang tentu saja menitikberatkan pada prestasi SBY semata, biar tampak hebat selama memimpin negeri ini dengan konsep auto pilotnya.
Padahal, lihat saja soal pembangunan infrastruktur, terutama jalan tol dimana ribuan kilometer jalanan di Pulau Jawa, belum yang di luar Jawa, kini sudah terhubung berkat kerja keras pemerintahan Jokowi. Sebesar apa peran SBY? Tak sampai satu persenlah, karena mulai dari rencana besar pembangunan, pembebasan lahan dengan konsep ganti untung, hingga penuntasan pembangunan, tampaknya tidak sedikit pun ada jasa SBY di sana.
Belum lagi kalau membahas soal IKN, di mana mungkin mewacanakan itu saja SBY tidak akan berani, karena akan ada banyak tantangan. Bagaimana soal penguasaan langit oleh Singapura, yang belum lama diambil alih oleh Indonesia? Kita tentu tahu jawabannya.
Jadi, rasanya pantas kalau AHY dinilai hanya mengigau supaya kehebatan SBY tetap diakui oleh internal partainya. Lagipula kalau soal gunting pita, jalan politik yang AHY lalui jauh lebih mudah, bahkan jika dibandingkan dengan Gibran sekalipun. Pepo SBY-lah yang sediakan karpet merah sekalian kursi empuknya sehingga AHY bisa jadi Ketum Partai Demokrat tanpa harus berkeringat. Gitu kok lagaknya mau nyindir Jokowi, kayak orang tidak tahu diri sampeyan, Mas!


0 komentar:
Posting Komentar