Anies Siap Maju sebagai Capres, Lihat Dulu Potensinya
Ada yang istimewa dari seorang Gubernur yang masa kerjanya tersisa seminggu lagi ini, Anies Baswedan. Seolah menegaskan dirinya memiliki elektabilitas tinggi maka dia nyatakan siap maju sebagai capres.
Tak tanggung-tanggung, kesiapan itu diakuinya kepada media asing ketika berada di Singapura. Ada yang cukup menggelitik tentang berita ini, bisa jadi media asing ini dipilih seperti kebiasaan Anies memilih vendor Pemprov dalam banyak pencitraannya.
Berita Anies yang berbau materi kampanye
Article Kalau dicermati isinya, berita ini terkesan merupakan pengakua sepihak dari Anies. Dia mengaku elektabilitasnya termasuk tertinggi bersama dua sosok lain, dan dengan bangga mengklaim survey tersebut bukanlah pesanan.
Jika kita bandingkan klaim Anies dengan berita survey terakhir, justru berita ke dua yang lebih valid menunjukkan Anies hanya berada di bawah Ganjar Pranowo. Dan kalau diklaim hasil survey itu bukan merupakan hasil kampanye, faktanya Anies justru sangat intens melakukan road show politik, hingga ke wilayah Papua segala.
Deklarasi Relawan Anies Baswedan
Dari semua partai-partai politik yang memiliki kursi di DPR, praktis hanya partai Nasdem yang sudah menyatakan siap mengusung 3 nama sebagai kandidat capres, sebelum digodok bersama mitra koalisi. Menariknya, di antara 3 nama tersebut, dua di antaranya bukanlah kader parpol. Apakah ini berarti ada indikasi tertentu?
Secara politik mungkin sosok Anies Baswedan mendapat tempat tersendiri, khususnya di benak beberapa pihak yang secara emosional memiliki ikatan sejarah. Partai Nasdem salah satunya, karena Anies Baswedan merupakan salah satu pemrakarsa berdirinya Ormas Nasdem semasa belum bermetamorfosa menjadi partai politik.
Namun hubungan Anies dengan Nasdem seperti mengalami pasang surut, terbukti pada pilgub 2017,Nasdem justru mendukung lawan Anies waktu itu. Bagaimanapun ada ungkapan dalam politik, taka da kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Karena alasan kepentingan itulah kali ini Nasdem menggadang-gadang Anies menjadi salah satu pilihan kandidat capres yang didukungnya.
Hal berbeda ditunjukkan oleh mitra kerjanya di DKI Jakarta, Anies justru terkesan sering dikritisi relative tajam ketika berhadapan dengan legislatif. Nalar public pun tergugah untuk mencerna suasana disharmoni antara sebagian anggota dewan dengan eksekutif. Gelagatnya memang dipicu ketaklaziman pihak Pemprov sendiri, beberapa program yang dijalankan terkesan tak berdasarkan persetujuan dewan.
Mungkin rekam jejak Anies dalam kaitan hubungannya dengan legislatif Jakarta, akan menjadi persoalan di benak pemilih, jika yang bersangkutan akan maju sebagai kontestan.


0 komentar:
Posting Komentar